PERBEZAAN SISTEM AR-RAHNU DENGAN PAJAK GADAIAN KONVENSIONAL

Kelebihan, perbezaan, dan definisi sistem Ar-Rahnu dengan sistem pajak gadaian konvensional

PERBEZAAN SISTEM AR-RAHNU DENGAN PAJAK GADAIAN KONVENSIONAL
Ar-Rahnu & Pajak Gadaian Konvensional

Ar Rahnu adalah satu sistem gadaian yang berlandaskan prinsip muamalat islam, dimana ia adalah satu skim PINJAMAN JANGKA PENDEK YANG BEBAS DARIPADA RIBA.

Fungsi-fungsi dan perkhidmatan ar-Rahnu ini dibolehkan didalam syariat islam bagi meringankan beban kepada mereka yang mengalami keputusan dalam beberapa keadaan ter.

Menggunakan gadaian arrahnu ini untuk 2 keadaan ini :KETIKA SAYA MEMERLUKAN TUNAI KECEMASAN.

Adapun cara kedua adalah;

2. SEKIRANYA SAYA MEMERLUKAN TUNAI UNTUK MEMBELI LAGI EMAS APABILA HARGA EMAS TURUN LEBIH RENDAH BERBANDING HARGA BELIAN SAYA SEBELUM INI.

Adalah sangat baik andainya kita mengetahui fungsi ar-Rahnu didalam syariat islam.

A. Defenisi Ar-Rahn (Gadai):

Ar-Rahn (gadai) secara bahasa ertinya adalah ats-tsubût wa ad-dawâm (tetap dan langgeng)(1); dan bisa juga berarti al-ihtibas (2) wa al-luzum (3) (tertahan dan keharusan).

Sedangkan secara syar‘i, ar-rahn (gadai) adalah harta yang dijadikan jaminan hutang (pinjaman) agar bisa dibayar dengan harganya oleh pihak yang wajib membayarnya, jika dia gagal (berhalangan) melunasinya.(4)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Gadai ialah harta benda yang dijadikan sebagai jaminan (agunan) hutang agar dapat dilunasi (semuanya), atau sebagiannya dengan harganya atau dengan sebagian dari nilai barang gadainya itu”.(5)

Sebagai contoh, bila ada seseorang memiliki hutang kepada anda sebanyak rm100.00. Lalu dia memberikan suatu barang yang nilainya sekitar rm200.00, sebagai jaminan hutangnya. Maka di dalam gambaran ini, hutangnya kelak dapat dilunasi dengan sebagian nilai barang yang digadaikannya itu bila dijual.

Contoh lain, bila ada seseorang yang berhutang kepada anda kira-kira rm150.00.Lalu dia memberikan kepada anda sebuah barang yang nilainya sebanyak rm50.00.Di dalam gambaran kedua ini, sebahagian hutang dapat dilunasi dengan nilai barang tersebut.

Dalam dua gambaran di atas, baik nilai barang gadaiannya itu lebih besar mahupun lebih kecil dari jumlah hutang, hukumnya tetap sama, diperbolehkan.

B. Landasan Disyariatkannya Gadai:
Gadai diperbolehkan dalam agama Islam baik dalam keadaan safar maupun mukim. Hal ini berdasarkan dalil Al-Qur’an, Al-Hadits dan Ijma’ (konsensus) para ulama. Di antaranya:

a. Al-Qur’an:
Firman Allah :
وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ
“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” (QS. Al-Baqarah: 283)
Di dalam ayat tersebut, secara eksplisit Allah  menyebutkan “barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang)”. Dalam dunia finansial, barang tanggungan biasa dikenal sebagai jaminan atau obyek pegadaian.

b. Al-Hadits:
عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِىٍّ إِلَى أَجَلٍ ، وَرَهَنَهُ دِرْعًا مِنْ حَدِيدٍ
Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo (kredit) dan beliau menggadaikan kepadanya baju besi.” (HR Bukhari II/729 (no.1962) dalam kitab Al-Buyu’, dan Muslim III/1226 (no. 1603) dalam kitab Al-Musaqat).

عَنْ أَنَسٍ – رضى الله عنه – قال : لَقَدْ رَهَنَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – دِرْعًا لَهُ بِالْمَدِينَةِ عِنْدَ يَهُودِىٍّ ، وَأَخَذَ مِنْهُ شَعِيرًا لأَهْلِهِ
Anas Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menggadaikan baju besinya di Madinah kepada orang Yahudi, sementara Beliau mengambil gandum dari orang tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga Beliau.” (HR. Bukhari II/729 (no. 1963) dalam kitab Al-Buyu’).

c. Ijma’ (konsensus) para ulama:
Para ulama telah bersepakat akan diperbolehkannya gadai (ar-rahn), meskipun sebagian mereka bersilang pendapat bila gadai itu dilakukan dalam keadaan mukim.(6) Akan tetapi, pendapat yang lebih rajih (kuat) ialah bolehnya melakukan gadai dalam dua keadaan tersebut. Sebab riwayat Aisyah dan Anas radhiyallahu ‘anhuma di atas jelas menunjukkan bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan muamalah gadai di Madinah dan beliau tidak dalam kondisi safar, tetapi sedang mukim.

C. Unsur dan Rukun Gadai (Ar-Rahn):
Dalam prakteknya, gadai secara syariah ini memiliki empat unsur, yaitu:
1. Ar-Rahin, Yaitu orang yang menggadaikan barang atau meminjam uang dengan jaminan barang.
2. Al-Murtahin, Yaitu orang yang menerima barang yang digadaikan atau yang meminjamkan uangnya.
3. Al-Marhun/ Ar-Rahn, Yaitu barang yang digadaikan atau dipinjamkan.
4. Al-Marhun bihi, Yaitu uang dipinjamkan lantaran ada barang yang digadaikan.(7)

Sedangkan rukun gadai (Ar-Rahn) ada tiga, yaitu:
• Shighat (ijab dan qabul).
• Al-‘aqidan (dua orang yang melakukan akad ar-rahn), yaitu pihak yang menggadaikan (ar-râhin) dan yang menerima gadai/agunan (al-murtahin)
• Al-ma’qud ‘alaih (yang menjadi obyek akad), yaitu barang yang digadaikan/diagunkan (al-marhun) dan hutang (al-marhun bih). Selain ketiga ketentuan dasar tersebut, ada ketentuan tambahan yang disebut syarat, yaitu harus ada qabdh (serah terima).

Jika semua ketentuan tadi terpenuhi, sesuai dengan ketentuan syariah, dan dilakukan oleh orang yang layak melakukan tasharruf (tindakan), maka akad gadai (ar-rahn) tersebut sah.

Syarat gadai (ar-rahn):
Disyaratkan dalam muamalah gadai hal-hal berikut:
Pertama: Syarat yang berhubungan dengan orang yang bertransaksi yaitu Orang yang menggadaikan barangnya adalah orang yang memiliki kompetensi beraktivitas, yaitu baligh, berakal dan rusyd (kemampuan mengatur).
Kedua: Syarat yang berhubungan dengan Al-Marhun (barang gadai) ada dua:
1. Barang gadai itu berupa barang berharga yang dapat menutupi hutangnya, baik barang atau nilainya ketika tidak mampu melunasinya.
2. Barang gadai tersebut adalah milik orang yang manggadaikannya atau yang dizinkan baginya untuk menjadikannya sebagai jaminan gadai.
3. Barang gadai tersebut harus diketahui ukuran, jenis dan sifatnya,(8) karena Al-rahn adalah transaksi atau harta sehingga disyaratkan hal ini.
Ketiga: Syarat berhubungan dengan Al-Marhun bihi (hutang) adalah hutang yang wajib atau yang akhirnya menjadi wajib.

D. Kapan Serah Terima Ar-Rahn (Barang Gadai) Dianggap Sah?
Barang gadai adakalanya berupa barang yang tidak dapat dipindahkan seperti rumah dan tanah, Maka disepakati serah terimanya dengan mengosongkannya untuk pemberi hutang tanpa ada penghalangnya.
Ada kalanya berupa barang yang dapat dipindahkan. Bila berupa barang yang ditakar maka disepakati serah terimanya dengan ditakar pada takaran, bila barang timbangan maka disepakati serah terimanya dengan ditimbang pada takaran. Bila barang timbangan, maka serah terimanya dengan ditimbang dan dihitung, bila barangnya dapat dihitung. Serta dilakukan pengukuran, bila barangnya berupa barang yang diukur.

Namun bila barang gadai tersebut berupa tumpukan bahan makanan yang dijual secara tumpukan, dalam hal ini ada perselisihan pendapat tantang cara serah terimanya. Ada yang berpendapat dengan cara memindahkannya dari tempat semula, dan ada yang menyatakan cukup dengan ditinggalkan pihak yang menggadaikannya, sedangkan murtahin dapat mengambilnya.

Beberapa Ketentuan Umum Dalam Muamalah Gadai:
Ada beberapa ketentuan umum dalam muamalah gadai setelah terjadinya serah terima barang gadai. Di antaranya:

1. Barang yang Dapat Digadaikan. 
Barang yang dapat digadaikan adalah barang yang memiliki nilai ekonomi, agar dapat menjadi jaminan bagi pemilik uang. Dengan demikian, barang yang tidak dapat diperjual-belikan, dikarenakan tidak ada harganya, atau haram untuk diperjual-belikan, adalah tergolong barang yang tidak dapat digadaikan. Yang demikian itu dikarenakan, tujuan utama disyariatkannya pegadaian tidak dapat dicapai dengan barang yang haram atau tidak dapat diperjual-belikan.

Oleh karena itu, barang yang digadaikan dapat berupa tanah, sawah, rumah, perhiasan, kendaraan, alat-alat elektronik, surat saham, dan lain-lain. Sehingga dengan demikian, bila ada orang yang hendak menggadaikan seekor anjing, maka pegadaian ini tidak sah, karena anjing tidak halal untuk diperjual-belikan.


عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ – رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِىِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ
Dari Abu Mas’ud Al-Anshari Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam melarang hasil penjualan anjing, penghasilan (mahar) pelacur, dan upah perdukunan.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Imam Asy-Syafi’i berkata: “Seseorang tidak dibenarkan untuk menggadaikan sesuatu, yang pada saat akad gadai berlangsung, (barang yang hendak digadaikan tersebut) tidak halal untuk diperjual-belikan.”(9)

2. Barang Gadai Adalah Amanah.
Barang gadai bukanlah sesuatu yang harus ada dalam hutang piutang, dia hanya diadakan dengan kesepakatan kedua belah pihak, misalnya jika pemilik uang khawatir uangnya tidak atau sulit untuk dikembalikan. Jadi, barang gadai itu hanya sebagai penegas dan penjamin bahwa peminjam akan mengembalikan uang yang akan dia pinjam. Karenanya jika dia telah membayar hutangnya maka barang tersebut kembali ke tangannya.
Status barang gadai selama berada di tangan pemberi hutang adalah sebagai amanah yang harus ia jaga sebaik-baiknya. Sebagai salah satu konsekuensi amanah adalah, bila terjadi kerusakan yang tidak disengaja dan tanpa ada kesalahan prosedur dalam perawatan, maka pemilik uang tidak berkewajiban untuk mengganti kerugian. Bahkan, seandainya orang yang menggadaikan barang itu mensyaratkan agar pemberi hutang memberi ganti rugi bila terjadi kerusakan walau tanpa disengaja, maka persyaratan ini tidak sah dan tidak wajib dipenuhi.

3. Barang Gadai Dipegang Pemberi hutang.
Barang gadai tersebut berada di tangan pemberi hutang selama masa perjanjian gadai tersebut, sebagaimana firman Allah: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” (QS. Al-Baqarah: 283).

Dan sabda Nabi:
الظَّهْرُ يُرْكَبُ إِذَا كَانَ مَرْهُونًا وَلَبَنُ الدَّرِّ يُشْرَبُ إِذَا كَانَ مَرْهُونًا وَعَلَى الَّذِى يَرْكَبُ وَيَشْرَبُ نَفَقَتُهُ
“Hewan yang dikendarai dinaiki apabila digadaikan. Dan susu (dari hewan) diminum apabila hewannya digadaikan. Wajib bagi yang mengendarainya dan yang minum, (untuk) memberi nafkahnya.” (Hadits Shahih riwayat Bukhari (no.2512), dan At-Tirmidzi (no.1245), dan ini lafazhnya).

4. Pemanfaatan Barang Gadai.
Pihak pemberi utang tidak dibenarkan untuk memanfaatkan barang gadaian. Sebab, sebelum dan setelah digadaikan, barang gadai adalah milik orang yang berutang, sehingga pemanfaatannya menjadi milik pihak orang yang berutang, sepenuhnya. Adapun pemberi utang, maka ia hanya berhak untuk menahan barang tersebut, sebagai jaminan atas uangnya yang dipinjam sebagai utang oleh pemilik barang.

Dengan demikian, pemberi utang tidak dibenarkan untuk memanfaatkan barang gadaian, baik dengan izin pemilik barang atau tanpa seizin darinya. Bila ia memanfaatkan tanpa izin, maka itu nyata-nyata haram, dan bila ia memanfaatkan dengan izin pemilik barang, maka itu adalah riba. Karena setiap pinjaman yang mendatangkan manfaat maka itu adalah riba.(10) Demikianlah hukum asal pegadaian.

Namun di sana ada keadaan tertentu yang membolehkan pemberi utang memanfaatkan barang gadaian, yaitu bila barang tersebut berupa kendaraan atau hewan yang diperah air susunya, maka boleh menggunakan dan memerah air susunya apabila ia memberikan nafkah untuk pemeliharaan barang tersebut. Pemanfaatan barang gadai tesebut, tentunya sesuai dengan besarnya nafkah yang dikeluarkan dan memperhatikan keadilan. Hal ini berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda: “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan, dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no.3962, Fathul Bari V/143 no. 2512, ‘Aunul Ma’bud IX/439 no.3509, Tirmidzi II/362 no.1272 dan Ibnu Majah II/816 no.2440).

Syaikh Abdullah Al-Bassam menjelaskan bahwa para ulama sepakat bahwa biaya pemeliharaan barang gadai dibebankan kepada pemiliknya. Demikian juga pertumbuhan dan keuntungan barang tersebut juga menjadi miliknya, kecuali pada dua hal, yaitu kendaraan dan hewan yang memiliki air susu yang diperas oleh yang menerima gadai.(11)

5. Biaya Perawatan Barang Gadai.
Jika barang gadai butuh biaya perawatan -misalnya hewan perahan, hewan tunggangan, dan budak (sebagaimana dalam as-sunnah) maka:
– Jika dia dibiayai oleh pemiliknya maka pemilik uang tetap tidak boleh menggunakan barang gadai tersebut.
– Jika dibiayai oleh pemilik uang maka dia boleh menggunakan menggunakan barang tersebut sesuai dengan biaya yang telah dia keluarkan, tidak boleh lebih.

Maksud barang gadai yang butuh pembiayaan, yakni jika dia tidak dirawat maka dia akan rusak atau mati. Misalnya hewan atau budak yang digadaikan, tentunya keduanya butuh makan. Jika keduanya diberi makan oleh pemilik uang maka dia bisa memanfaatkan budak dan hewan tersebut sesuai dengan besarnya biaya yang dia keluarkan. Hal ini berdasarkan hadits Nabi yang telah lalu dalam masalah pemanfaatan barang gadai.

6. Pelunasan Hutang Dengan Barang Gadai.
Apabila pelunasan hutang telah jatuh tempo, maka orang yang berhutang berkewajiban melunasi hutangnya sesuai denga waktu yang telah disepakatinya dengan pemberi hutang. Bila telah lunas maka barang gadaian dikembalikan kepada pemiliknya. Namun, bila orang yang berutang tidak mampu melunasi hutangnya, maka pemberi hutang berhak menjual barang gadaian itu untuk membayar pelunasan nutang tersebut. Apa bila ternyata ada sisanya maka sisa tersebut menjadi hak pemilik barang gadai tersebut. Sebaliknya, bila harga barang tersebut belum dapat melunasi nutangnya, maka orang yang menggadaikannya tersebut masih menanggung sisa hutangnya.(12)

Demikianlah penjelasan singkat tentang hukum muamalah gadai dalam fiqih Islam. Dari penjelasan di atas, Nampak jelas bagi kita kesempurnaan, keindahan dan keadilan Islam dalam mengatur segala aspek kehidupan manusia. Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.

Sumber: https://abufawaz.wordpress.comhukum-pegadaian-dalam-fiqih-islam/

 

 

PERBEZAAN SISTEM AR-RAHNU DENGAN PAJAK GADAIAN KONVENSIONAL

Ramai yang masih tidak tahu lagi kelebihan Ar-rahnu pada hari ini, bagaimana cara kiraan, apa kelebihan dan kebaikan ia. Disini saya ingin memberi serba sedikit kelebihan Ar-rahnu :

Antara kelebihan Ar-Rahnu berbanding Pajak Gadai Konvensional ialah:

  1. Tidak Mengenakan Kadar Faedah (Unsur Riba)
    Perbezaan utama antara Ar-Rahn dan Pajak Gadai Konvensional adalah pada perjanjian pinjaman yang dikaitkan dengan sesuatu ganjaran dan bukan pada gadaian itu sendiri. Dalam perjanjian Ar-Rahn, pinjaman yang diberi tidak dikenakan faedah (interest) iaitu riba di mana riba diharamkan oleh Islam, berbanding Pajak Gadai Konvensional yang menjadikan faedah sebagai sumber hasil kepada pemberi pinjaman dan ianya diharamkan oleh Islam.

Nilai Gadaian Tidak Merosot

  1. Nilai gadaian bagi barang yang ingin ditebus semula tidak merosot dan tidak berubah serta tidak berlaku penyelewengan. Tidak berlaku sebarang masalah di mana barang kemas seperti rantai emas apabila ditebus didapati kurang berat atau pendek sedikit daripada sebelum digadai.
  2. Wang Lebih Gadaian Dipulangkan
    Sekiranya pemberi gadaian tidak berkemampuan membayar balik hutang yang ditanggungnya apabila tamat tempoh perjanjian, pemberi gadaian akan diberitahu atau dimaklumkan tentang barang gadaian yang terpaksa dijual. Sekiranya harga jualan melebihi baki hutangnya, lebihan tersebut akan dikembalikan. Ini berlaku kerana nilai pinjaman adalah jauh lebih rendah dari nilai barang gadaian.
  3. Barang Kemas Yang Disimpan Selamat
    Semua barang kemas yang disimpan dalam skim tersebut adalah selamat. Di mana, penerima gadaian akan menjamin pemeliharaan dan bertanggungjawab ke atas barangan kemas yang diberi oleh pemberi gadaian. Dengan ini, pemberi gadaian tidak perlu risau dengan masalah pemeliharaan dan penjagaan barang kemas mereka sepanjang ia berada di pihak penerima gadaian.
  4. Caj perkhidmatan Yang Rendah
    Ar-Rahn menawarkan caj perkhidmatan yang rendah. Semua pengurusan di Ar-Rahn melibatkan kos dan risiko yang rendah jika dibandingkan dengan Pajak Gadai Konvensional. Pajak Gadai Konvisional menawarkan caj perkhidmatan yang tinggi dan ada juga sebilangan pemegang atau tauke Pajak Gadai Konvensional yang menerima atau meminta wang pendahuluan dari penggadai walaupun akta melarang kegiatan tersebut.
  5. Tiada Unsur Penipuan Semasa Membuat Timbangan.
    Pemberi gadaian juga tidak perlu risau dengan penipuan-penipuan yang sering berlaku semasa timbangan dibuat. Ini kerana, dalam Ar-Rahnu tidak akan berlaku sebarang unsur penipuan semasa timbangan dibuat dan nilai timbangan yang jelas akan ditunjukkan kepada pemberi gadaian.
  6. Tempoh Membayar Balik Yang Munasabah
    Ar-Rahnu juga merupakan sebuah Pajak Gadai Islam yang boleh bertolak ansur dengan pelanggannnya berkaitan dengan tempoh membayar balik wang pinjaman yang telah dipinjam. Tempoh membayar balik yang dikenakan adalah munasabah dan boleh diterima pakai oleh semua pihak. Tidak seperti sesetengah Pajak Gadai Konvensional yang kadangkala meminta wang tambahan daripada pemberi gadaian sekiranya pemberi gadaian ingin melanjutkan tempoh pembayaran balik pinjaman mereka.
  7. Pemberian Notis Kepada Penggadai Tentang Upacara Lelongan
    Pihak penerima gadaian akan memberi notis kepada pihak penggadai sekiranya barang gadaian mereka hendak dilelongkan dan tempoh masa membayar balik untuk mereka telah habis. Dengan ini pihak pemberi gadaian akan mengetahui bahawa tempoh masa membayar balik yang diperuntukkan untuk mereka telah habis dan barang gadaian mereka akan dilelongkan.
  8. Memberi Nilai Gadaian Yang Sepatutnya
    Perkara ini sering berlaku dalam Pajak Gadai Konvensional. Ia berlaku kerana Akta Pemegang Pajak Gadai tidak menetapkan nilai tara atau kriteria untuk menilai gadaian berkenaan. Dalam Ar-Rahnu, penerima gadaian akan memberi nilai gadaian yang sepatutnya dengan barang gadaian yang digadai oleh penggadai.
Sumber: http://www.arrahnu.org/
 

PUBLIC GOLD & POS ARRAHNU BERPISAH TIADA

Susah untuk meyakinkan diri sendiri terutamanya apabila kita tidak ada idea langsung tentang Public Gold. Tambahan pula apabila ramai penyangak skim cepat kaya emas muncul seperti cendawan tumbuh selepas hujan. 

Langkah-langkah berikut mungkin akan mengurangkan sedikit risau anda tentang Public Gold :

1. Periksa alert list BNM untuk melihat samada nama Public Gold tersenarai dalam alert list tersebut. Biasanya syarikat bermasalah seperti skim cepat kaya akan tersenarai dalamnya.

2. Langsung ke mana-mana Ar-Rahnu Pos Malaysia di seluruh negara untuk memastikan samada emas Public Gold ada dijual di sana atau tidak. Mustahil syarikat berkaitan kerajaan (GLC) sebesar Pos Malaysia sanggup bersekongkol dengan skim cepat kaya.

3. Buat semakan dengan pihak autoriti seperti Jabatan Kastam atau Lembaga Hasil Dalam Negeri untuk memastikan emas keluaran syarikat mana yang dikecualikan dari cukai GST sebanyak 6%. Jika Public Gold tidak wujud, maka tidak logik jika item emasnya mendapat pelepasan cukai GST.

4. Penasihat Syariah Public Gold ialah Amanie Advisors, firma penasihat Syariah antarabangsa yang diketuai oleh Datuk Dr. Mohd Daud Bakar, Pengerusi Majlis Penasihat Syariah Bank Negara Malaysia. Sebelum mereka bersetuju untuk dilantik sebagai penasihat Syariah, mereka akan membuat pemeriksaan yang sangat rapi tentang latar belakang Public Gold.

5. Buat carian dan semakan di media sosial tentang kesahihan bisnes Public Gold. Anda boleh bertanya secara khusus kepada mana-mana figura yang terkenal anti scam dan rujukan kewangan seperti Azizi Ali, Afyan Mat Rawi, Samsuddin Kadir dan lain-lain.

6. Hadir terus ke mana-mana seminar emas PERCUMA Public Gold di seluruh negara untuk bertanya secara langsung segala kemusykilan anda. 

7. Terus ke mana-mana cawangan Public Gold berdekatan anda untuk membeli emas secara cash and carry serendah 0.5 gram atau 1 gram. Jika anda bayar duit tapi tak dapat emas, anda boleh buat laporan kepada pihak berkuasa kerana berkemungkinan besar Public Gold adalah skim cepat kaya.

Selesaikan keraguan anda secepat mungkin. Public Gold hari ini sudah 10 tahun di hadapan anda. Lagi lama anda dalam keraguan, lagi jauhlah anda akan ketinggalan.

Azam Amiri || PG00099605
Founder Star Dealer Public Gold 
☎️www.wasap.my/+60179600278/NakMulaSimpanEmas